Ayahnda

Ayahnda

Sabtu, 24 Mac 2012

Sambungan Pengajaran dan Tauladan dari Kisah Ayahnda Nuh a.s.



Assalamualaikum..wrt, artikel kali ini adalah sambungan artikel pengajaran dan tauladan dari kisah Ayahnda Nuh a.s. semoga kita semua mendapat manfaat dunia dan akhirat.

Ayat Al-Quran sebagai ungkapan perkataan Ayahnda Nuh a.s. sebagai berikut, “Dan Allah menumbuhkan kami dari tanah dengan sebaiknya”. Ayat ini menerangkan kepada kita bahwa Allah s.w.t. menyempurnakan hidup kita ini dari tumbuh-tumbuhan. Maksudnya, kelangsungan hidup kita ini tergantung dari tmbuh-tumbuhan. Adalah sangat menakjubkan sekali bahwa ayat ini sebenarnya menerangkan hakikat ilmiah dan bersesuaian dengan apa yang diterangkan dalam sebuah buku ilmiah berjudul “Air adalah benda alam yang luar biasa”. 

Para sarjana biologi menetapkan bahwa tumbuh-tumbuhan adalah keperluan primer makhluk hidup seperti haiwan, termasuk juga manusia. Bahkan semua bakteria pun dapat hidup dengan memakan tumbuh-tumbuhan atau sari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Seperti kita makan ikan umpamanya, sebenarnya kita memakan tumbuh-tumbuhan. Kenapa demikian, kerana ikan-ikan besar hidup dengan memakan ikan-ikan kecil atau haiwan-haiwan kecil lain, demikian seterusnya. Akhirnya jika kita teruskan kitaran ini akan sampai kepada tumbuhan. Maka tumbuh-tumbuhan adalah asas kehidupan yang paling tua, setua jenis manusia itu sendiri. Demikianlah keterangan yang dapat kita peroleh dari Al-Quran dan ilmu pengetahuan yang menerangkan tentang makanan manusia dan unsur-unsur lain yang hidup dari makanan itu.



2. Keserasian hubungan antara golongan manusia.

Pada zaman Ayahnda Nuh a.s., menurut keterangan Al-Quran terdapat dua golongan manusia. Mereka terbahagi dalam kelompok orang kaya dan terhormat, serta kelompok kaum buruh dan fakir. Al-Quran menggambarkan dalam kisah Ayahnda Nuh a.s., bahwa kaum buruh dan fakir menerima dakwahnya kerana kelompok ini mengakui dan menegakkan keadilan, persamaan dan kasih sayang di kalangan mereka dan tidak pandang antara si kaya dan si miskin. Akan tetapi, kelompok orang kaya dan bangsawan menolak dakwah Ayahnda Nuh a.s.

Mereka merasa lebih mulia dan tidak layak bersama orang yang lebih rendah derajatnya dalam satu ikatan kerjasama. Lebih jelas lagi, kelompok bangsawan berjanji kepada Ayahnda Nuh a.s. akan menerima ajarannya jika Ayahnda Nuh a.s. bersedia mengusir semua kaum fakir dan buruh dari majlisnya. Tetapi Ayahnda Nuh a.s. menolak syarat yang mereka ajukan dan berkata kepada mereka, “Aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui. Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari azab Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?” Surah Huud ayat 29 dan 30.


Al-Quran sejak 14 abad yang lalu telah menghapuskan adanya kasta dalam masyarakat dengan suatu ayat yang menerangkan bahwa semua manusia adalah sama. Dalam kisah Ayahnda Nuh a.s., Allah s.w.t. hendak menjelaskan bahwa antara para hartawan dan bangsawan dengan lainnya tidak ada kelebihan sama sekali. Dan masyarakat yang dikehendaki Allah s.w.t. adalah masyarakat yang sederajat dan mempunyai hak dan kewajipan yang sama. Masalah yang membedakan mereka adalah ilmu dan ketakwaan. Dalam Al-Quran diterangkan,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” Surah al-Hujurat ayat 13.

“Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.” Surat az-Zumar ayat 9.

Seandainya orang-orang kaya mendengar dan memperhatikan kebenaran, niscaya tidak akan terjadi pergaduhan antara kelompok.



3.  Pelajaran tentang Tekad Yang Kuat.

Di antara sifat yang harus dimiliki oleh manusia adalah tekat yang kuat, dengan tekad kuat itu dapat mengalahkan kesulitan dan kegawatan. Ayahnda Nuh a.s. sebagai contoh yang layak diteladani kekuatan tekadnya. Baginda berdakwah kepada kaumnya secara terus menerus dalam jangka waktu yang sangat panjang tanpa tergoyangkan kemauan dan aqidahnya. Di antara gambaran yang lebih jelas sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran adalah istiqamah Ayahnda Nuh a.s. dalam berdakwah kepada kaumnya. Baginda tak kenal siang maupun malam, baik sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, dan kaumnya mengacuhkan dakwahnya sama sekali. Bahkan mereka tidak mau mendengar atau menyaksikan dakwah Ayahnda Nuh a.s. Inilah puncak dari keingkaran mereka terhadap dakwah Nabi Nuh a.s. dan siksaan bagi perasaannya.


Cuba saja sampai mereka menuduh Ayahnda Nuh a.s. seorang gila, “Dia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu”. Surah Al-Mu’minun ayat 25. 

Jika kita langkahkan penyelidikan lebih jauh, maka tampak lebih jelas kekuatan tekah Ayahnda Nuh a.s. ketika menghadapi ancaman secara berani, tak gentar meneruskan dakwahnya, “Mereka berkata, ‘Sesungguhnya jika  kamu tidak mau berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang yang dirajam.” Surah Asy-Syu’ara ayat 116.

Akan tetapi, Ayahnda Nuh a.s. tidak gentar menghadapi ancaman itu, bahkan berserah diri ada Allah s.w.t. “Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku, kerana itu adakanlah keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang Mukmin besertaku.” Surah Asy-Syu’ara ayat 117 dan 118.


Pada saat yang berbeza, kita juga dapat menyaksikan ketabahan Ayahnda Nuh a.s. menghadapi ejekan kaumnya ketika membina bahtera di atas pergunungan. “Dan tiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya, berkatalah Nuh, ‘Jika engkau mengejek kami, maka kami pun mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek kami.” Surah Huud ayat 38.

Apa sebenarnya yang mendorong Ayahnda Nuh a.s. hingga ia mempunyai keazaman yang teguh itu? Jawapannya tidak lain adalah Iman yang kuat terhadap Tuhannya (Allah sw.t), dan kepasrahnnya (redhanya) setiap kali mendapat kesulitan dan siksaan.


4. Menghindar diri dari keluarga yang rosak.

Hubungan keluarga merupakan faktor penting dalam membina umat manusia. Oleh sebab itu, perlu mendapat perhatian khusus seperti dengan pengorbanan dan kasih sayang naluriah.


Islam memang banyak memberikan perhatian tentang masalah keluarga ini, kerana tabiat dan maslahat manusia tergantung pada baik atau buruknya keluarga. Tetapi, dalam pembinaan keluarga ada syarat asasi yang perlu ditanamkan, yakni iman dan syari’at, sebab keduanya ini sebenarnya yang menjadi pengikat dalam ikatan kekeluargaan. Kerananya, seorang Muslim akan bersaudara berdasarkan iman dan keislamannya, dan membenci seseorang, walaupun dia itu keturunannya, kerana kekufurannya.

Al-Quran menerangkan, “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan.” Surah al-Mujadalah ayat 22.


Dari kisah Ayahnda Nuh a.s., Al-Quran memberikan contoh yang hidup bagi kita. Ayahnda Nuh a.s. menyayangi anaknya sehingga baginda memohon kepada Tuhan agar menyelamatkan putranya itu dari bahaya kehancuran. Tetapi Allah s.w.t. tidak memperkenankan permohonannya dan mengatakan bahwa perbuatan Ayahnda Nuh a.s. (memohon keselamatan putranya) sebagai kebodohan yang tidak semestinya ada pada diri Nabi Nuh a.s.

“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata, ‘Ya, Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya’. Allah berfirman, ‘Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah keluargamu (yang dijanjikan Allah akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikatnya)”. Surah Huud ayat 45 dan 46.


Berdasarkan ayat tersebut, kiranya jelas bahwa yang menjadi sasaran Al-Quran tidak hanya sekedar hubungan keluarga. Tetapi amal solehnya yang menjadikan seseorang mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hubungan keluarga sama sekali tidak dapat memberikan pertolongan dari azab Allah s.w.t. kalau ia orang yang durhaka.

Al-Quran menegaskan lebih lanjut lagi, “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang soleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari siksa Allah, dan dikatakan kepada keduanya,masuklah ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk neraka”. Surah at-Tahrim ayat 10.

Sebab kehancuran isteri Nuh dan Luth adalah penyelewengan mereka dari jalan yang benar. Ini merupakan contoh yang jelas dari Al-Quran bahwa kerabat, walaupun dia orang soleh, sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kerabat yang durhaka.


Banyak sekali orang yang tersesat dalam memahami jalan keselamatan hanya dapat diperolehi dengan mengagungkan tokoh-tokoh agama tanpa memperhatikan apakah dirinya sudah berbuat baik atau tidak. Fahaman yang demikian ini merupakan kesalahan dan dapat merosakkan agama itu sendiri serta menyebabkan keterbelakang, kejumudan dan kehancuran. Lain halnya dengan orang yang mengerti bagaimana seharusnya menghormati tokoh agama yang dibenarkan dan dikehendaki oleh agamanya, tidak hanya sekadar mengagungkan tanpa adanya usaha memperaiki keadaan diri sendiri.

Wallahu'alam.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan