Ayahnda

Ayahnda
Memaparkan catatan dengan label Hikmah dan Filsafat. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Hikmah dan Filsafat. Papar semua catatan

Jumaat, 24 Oktober 2014

Raja Sulaiman a.s. (Salam Ma'al Hijrah 1436)


Assalammu'alaikum...wrth, hari ini Jumaat 24/10/2014 Masihi, bersamaan 29/12/1435 Hijrah malam 01 Muharram 1436 Hijrah juga bersamaan 01/01/10,003 Tahun PuSaka. Sempena malam tahun 1436 hijrah ini, hamba ucapkan Selamat Menyambut Tahun Hijrah (Salam Ma'al Hijrah) 1436 kepada sekalian saudara saudari pembaca yang dihormati.

Bulan Muharram adalah bulan yang Allah s.w.t. berikan kemenangan kepada Rasul-RasulNya dan juga bulan yang dihancurkan kezaliman dan kekufuran.

Maksud bersatu ialah berpegang teguh dengan setiap perkara yang Allah bangkitkan Rasul.

Tafsir Surah Al-‘Asri :


Demi masa” – Allah bersumpah dengan masa, kerana Allah hendak menunjukkan masa itu sangat penting dan sangat berharga.

Sesungguhnya manusia itu di dalam kerugian” - Allah telah mentauqidkan (mengukuhkan) bahawasanya manusia dalam kerugian. Manusia yang mana? Manusia yang sejak zaman Nabi Adam a.s. sampai lah hari Qiamat.

Melainkan orang-orang yang beriman dan beramal soleh” – Beriman dengan Allah Ta’ala dan apa yang dibawa oleh Rasul. Amal soleh ialah mempraktikkan syariat dan thoriq yang sampai kepada haqiqat dan makrifat.

Dan orang-orang yang berpesan-pesan dengan Haq” – Apa itu Haq? Haq ialah ; “Tidak Aku (Allah) jadikan jin dan manusia melainkan untuk memperhambakan dirinya kepada-Ku”. (Surah Az-Zariyat ayat 56) Maksud memperhamba ialah mengenal Allah. Haq ini ialah pengakuan kita di alam zuriat dulu sewaktu Allah bertanya roh, “Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” (Surah Al-‘Araaf ayat 172). Semua Roh mengaku, tunduk kepada kebesaran dan keagungan Allah. Sekurang-kurang darjah (tahap) Haq ialah orang yang sampai maqam nafsu Mutmainnah.

Dan orang-orang yang berpesan-pesan dengan kesabaran” – Orang yang sampai darjah Haq baru lah mereka ada sabar, dan ada sifat-sifat yang bersesuaian dengan yang Allah redho (sifat-sifat Mahmudah).
Orang yang belum Mutmainnah belum ada sifat sabar dan redho lagi. Orang kafir mana sabar, sebab dia kafir. Sabar yang ada pada mereka ialah TABIAT sahaja.


Detik terpamernya kebijaksanaan Sulaiman bin Daud a.s.

Pada suatu malam, kambing-kambing tanpa penggembala telah memasuki lading dan merusakkan tanaman. Kemudian para pemilik lading itu datang kepada Nabi Daud a.s. mengadukan perkaranya. Mereka berkata, “Wahai Nabi, sesungguhnya kami telah membajak tanah kami, lalu kami Tanami dan kami pelihara. Namun ketika datang waktu menuai hasilnya pada suatu malam telah datang kambing-kambing kepunyaan suatu kaum merusak tanam-tanaman kami, dan memakannya sampai tidak tersisa sedikit pun.” Nabi Daus a.s. bertanya kepada para pemilik kambing, “Benarkah apa yang dikatakan itu?” Mereka menjawab, “Benar.”

Kemudian Nabi Daud a.s. bertanya kepada para pemilik lading, “Menurut perkiraanmu, berapa harga tanaman itu?” lalu mereka menyebut harganya. Kemudian Nabi Daud a.s. bertanya lagi kepada pemilik kambing. “Menurut perkiraanmu, berapa harga kambing-kambing itu?”, mereka pun memperkira harganya. Kerananya ketika Nabi Daud a.s. melihat kedua harga itu berdekatan, dia berkata kepada para pemilik kambing, “Bayarkanlah kambing-kambing kamu itu kepada para pemilik lading, sebagai ganti dari tanaman-tanaman mereka yang telah rosak.’

Tetapi putranya, Sulaiman a.s. yang ketika itu hadir menyaksikan keputusan ini, segera menyanggah ayahnda, seraya berkata, “Saya mempunyai pendapat dalam perkara ini supaya para pemilik kambing menyerahkan kambing-kambing mereka kepada pemilik lading, sehingga mereka dapat memanafaatkan bulu-bulu, susu-susu dan anak-anak kambing itu. Sedangkan para pemilik kambing mengambil lading-ladang itu lalu membajak, menanami, menyiram, dan memeliharanya sampai berbuah. Sehingga apabila telah datang waktu menuai, para pemilik kambing itu menyerahkan kembali ladang-ladang itu kepada para pemiliknya dan para pemilik kambing menerima kambing-kambing mereka kembali.”


Para hadirin sangat menyetujui keputusan ini. Dan Nabi Daud a.s. berkata, “Aku menyutujui keputusan ini, wahai anakku”. Lalu Nabi Daud a.s. memberikan keputusan sesuai dengan fatwa Sulaiman a.s. Hal ini disebut di dalam Al-Quran surah Al-Anbiya’ ayat 78 dan 79.

Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, kerana tanaman itu dirosak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami memberikan pengertian (kefahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan kepada masing-masing mereka (Nabi Daud dan Nabi Sulaiman) telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”

Nota : “Maka Kami telah memberikan pengertian (kefahaman) kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)” : Hal itu menunjukkan bahwa pendapat Sulaiman a.s. lah yang lebih benar. Kalau pun tidak demikian, tentu Allah tidak akan mengkhususkannya dengan “memberikan pengertian”. Pengkhususan itu tidak menunjukkan bahwa Daud a.s. salah, kerana ada kemungkinan bahwa keduanya itu benar, yaitu makna firman Allah Ta’ala, “Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu”.

Dari sini dapatlah diambil suatu pelajaran bahwa para mujtahid tidak akan mampu untuk selalu benar dalam setiap perkara. Dan mereka wajib untuk tidak berpegang teguh kepada suatu pendapat, apabila mereka melihat pendapat lain yang lebih mendekati kebenaran. Dan inilah yang dilakukan oleh Nabi Daud a.s., yaitu meninjau kembali pendapatnya dan membandingkannya dengan pendapat yang difatwakan oleh Sulaiman a.s. Dan dari sini dapat diambil pengajaran pula, iaitu diperbolehkan berijtihad di dalam menetapkan hukum hakam. Walaupun sesungguhnya yang berijtihad itu kadang-kala salah, namun dengan kesalahannya itupun dia masih diberi pahala. Kerana Allah telah menberitahukan kepada kita bahwa kebenaran berada di pihak Sulaiman a.s., namun demikian Allah Ta’ala memuji keduanya (Sulaiman a.s. dan Daud a.s.) bersama-sama.


Pewaris Kerajaan Nabi Daud a.s.

Allah Ta’ala melebihkan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. dengan memberi ilmu perundangan dan hukum. Kedua-duanya pun telah mengetahui ukuran kemampuan nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami atas kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman, yang tidak diberikan ilmu seperti yang diberikan kepada kami”.

Ketika Nabi Daud a.s. wafat, di antara putra-putranya, hanya Sulaiman a.s. yang mewarisi kenabian dan kerajaan. Ketika Nabi Sulaiman a.s. berkuasa atas kerajaan, dia mengundang pembesar-pembesar dan para cerdik pandai yang ada dalam kerajaannya. Nabi Sulaiman a.s. bertitah kepada mereka sebagai pujian atas kelebihannya, “Allah telah melebihkan aku dengan mengajarkan bahasa binatang dan burung kepadaku, sehingga aku dapat mengerti apa yang mereka bicarakan. Ini adalah tambahan nikmat terhadap kerajaan dan kenabian yang telah Allah berikan kepadaku. Sesungguhnya nikmat-nikmat yang besar ini adalah kurniaan dari kebaikanNya, yang jelas tampak bagi setiap orang”.

Pada suatu hari Nabi Sulaiman a.s. memanggil bala tenteranya. Dia bermusyawarah dengan mereka yang terdiri daripada jin, manusia dan burung-burung yang mentaatinya. Kemudian berjalanlah Nabi Sulaiman a.s. bersama mereka hingga tiba pada suatu lembah yang banyak semut. Nabi Sulaiman a.s. mendengar seekor semut berkata kepada kawan-kawannya, “Wahai semut sekalian, lihatlah itu Nabi Sulaiman berjalan dengan tenteranya menuju kea rah kamu. Bersegeralah kamu bersembunyi di lubang-lubang, sehingga mereka tidak membinasakan kamu dengan injakannya, sedangkan mereka tidak akan merasakan bahwa kamu itu ada.”

Nabi Sulaiman a.s. mendengar apa yang dikatakan semut itu. Maka dia merasa gembira, kerana semut itu telah mengingatkannya kepada kenabian, kebijaksanaan dan kasih saying yang telah Allah Ta’ala berikan kepadanya. Dia juga merasa senang dengan kelebihan-kelebihan yang Allah Ta’ala berikan kepadanya, seperti kerajaan dan mengetahui pembicaraan semut yang tidak dapat diketahui oleh manusia lain. Nabi Sulaiman a.s. berkata, sambil bermunajat kepada Allah Ta’ala, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang selalu mensyukuri nikmat Mu, dan masukanlah aku dengan kurnia dan rahmatMu ke dalam golongan orang-orang soleh yang mendapat redha-Mu.”


Lihat Al-Quran surah An-Naml ayat 15 hingga 19.

Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan kedua-duanya mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yangmelebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman’. Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata, ‘Wahai manusia, kami telah diberi pengertian tentang ucapan segala burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar satu kurnia yang nyata’. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tenteranya dari Jin, Manusia dan burung, lalu mereka itu diatur tertib (dalam barisan).hingga apabila mereka sampai di Lembah Semut. Berkatalah seekor semut, ‘Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya, sedangkan mereka tidak menyedari’. Maka dia tersenyum dengan tertawa kerana (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapaku dan untuk mengerjakan amal soleh yang Engkau ridha, dan masukanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang soleh”.

Nota : Dalam peristiwa ini terdapat suatu pengajaran yang menyentuh maslahat umat kini, yaitu bahwa orang-orang yang kuat seharusnya mengasihani yang lemah. Dari nash Al-Quran ini tampak jelas bahwa semut hidup di tempat-tempat tertentu atau ia mempunyai masyarakat khusus, sebagaimana ia mempunyai kelebihan seperti kewaspadaan dan hati-hati serta mempunyai bahasa khusus yang dimegerti mereka. Demikianlah, bahwa ia mempunyai masyarakat yang teratur, kecerdasan, senang bekerja, tabah dan pandai membuat alas an. Dari waktu ke waktu, mereka selalu mengadakan pertemuan di suatu bukit. Ketika bertemu mereka selalu mengadakan percakapan dan saling bertanya tentang hal yang berhubungan dengan keadaan mereka, seandainya tidak takut memperpanjangkan tulisan, nescaya hamba sebutkan hal yang berkenaan dengan kelebihan semut.

Wallahu’alam.


Ujian Bagi Nabi Sulaiman a.s.

Allah Ta’ala menguji Nabi Sulaiman a.s. dengan penyakit yang berat, sehingga apabila dia duduk di atas kerusi, tampak seakan-akan dia sebagai jasad yang tidak mempunyai roh. Kemudian dia kembali sembuh. Kadang-kala penyakit seperti yang menimpa Nabi sulaiman a.s. ini disebabkan oleh sangat kurangnya kerehatan atau terlalu berlebih-lebihan di dalam melakukan pekerjaan. Hal ini sebagaimana menimpa sebahagian orang yang berlebih-lebihan dalam melakukan pekerjaan kini. Oleh kerana itu, jika seseorang ditimpa suatu penyakit yang diakibatkan oleh beberapa sebab, termasuk berlebih-lebihan dalam pekerjaan, maka dia akan berhati-hati terhadap kekeliruan yang menimpanya, lalu memohon kepada Allah agar mengampuni dan memulihkan kesehatannya. Demikian juga apa yang terjadi pada diri Nabi Sulaiman a.s.

Allah Ta’ala berfirrman, “Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah kerana sakit), kemudian dia bertaubat. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku…”
Surah Shood ayat 34 dan 35.


Rindu kepada orang yang dimuliakan oleh Allah.

Berkata Amirul Mukminin Ali karramallahu wajhah dalam menyifatkan para Ahlillah, yakni orang-orang yang menekunkan diri hanya kepada Allah dan para penggantinya di muka bumi ini dari hamba-hamba Allah, katanya: “Mereka itu hanya sedikit bilangannya, namun amat besar di pandangan Allah darjatnya. Mereka menjadi hujah-hujah Allah sebagai gambaran kepada orang-orang yang ingin meletakkan kaki di jalan yang sama, lalu ditanamkan ke dalam hati mereka perilaku dan tindakan yang serupa. Mereka telah dikelubungi oleh ilmu hakikat (kebenaran) yang menjadikan hidup mereka serba lembut, yang agak dipandang sukar oleh orang-orang yang hidupnya serba mewah. Mereka merasakan penuh kemesraan terhadap apa yang dianggap oleh orang-orang bodoh sebagai SUSAH. Mereka menempuh angin rebut pancaroba dunia dengan tubuh-tubuh yang jiwanya terpaut di kemuncak pandangan tinggi mulia tempat berserah. Mereka inilah yang dikatakan para KHALIFAH ALLAH, yang berkelana di bumi Allah, sebagai para penyeru agama Allah…. Ah, ah betapa sangat rindu untuk melihat orang-orang yang dimuliakan Allah”.

Demikianlah suatu keluhan sanubari dari Saiyidina Ali r.a. Mudah-mudahan Allah meridhainya dan kita jua untuk bersama-sama dengan mereka sekalian, serta memberi manfaat buat kita dan sekalian kaum Muslimin.
Mereka itulah parti Allah, dan ingatlah bahwa parti Allah itulah yang akan Berjaya.”

Surah Al-Mujadalah ayat 22.

Sekian wassalam.


SALAM MA’AL HIJRAH 1436


Pondok Derang, Kedah dan Manaksah Kg. Sg. Baru Utan Aji, Perlis.

Jumaat, 26 September 2014

Pelajaran dan Teladan dari Kisah Ayahnda Daud a.s.


Assalammu'alaikum..wrth, hari ini Jumaat 26 September 2014 Masihi bersamaan 01 Zulhijjah 1435 Hijrah sempena bulan harram yang mulia ini dan di awal bulan Zulhijjah (bulan haji) hamba nukilkan sedikit pelajaran dan teladan yang boleh sama-sama kita hayati daripada kisah Ayahnda Daud a.s.

Sebagaimana yang ramai maklum, bahawa salah satu mukjizat Ayahnda Daud a.s. ialah suaranya yang amat lunak dan merdu sehinggakan ketika mana dibacanya kitab Zabur; makhluk yang ada disekitarnya seperti tumbuh tumbuhan, gunung ganang, bukit bukau dan haiwan juga turut terpesona dengan kemerduan suara Ayahnda Daud a.s. Sehinggakan burung-burung yang sedang terbang juga berhenti dan turun ke tanah mendengarkan bacaan Ayahnda Daud a.s Dikatakan juga angin juga berhenti bertiup, hatta besi yang ada di tangannya juga menjadi lembut dan mudah dibentuk oleh jari jemari Ayahnda Daud a.s.

Diriwayatkan juga bahawa di akhirat nanti seluruh penghuni syurga dapat mendengan dan menghayati kemerduan dan kelunakan suara Ayahnda Daud a.s. ketika membaca isi kitab Zabur. Wallahu'alam.


Rawatan CUCI SUARA : Rahsia perubatan Melayu Islam.

Suara yang lunak merdu amat penting untuk menyebut dan mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Quran (kalamullah) dan berzikirullah, kerana dengan suara yang lunak dan merdu dapat menarik perhatian hati juga menjadi kesukaan semua hamba-hamba Allah Ta'ala. Suara yang baik, lunak dan merdu juga menjadi kesukaan Allah Rabbul'alamin. 

Dikesempatan ini, hamba ingin berkongsi sedikit ilmu Rawatan Cuci Suara yang diamalkan oleh para ulama' terdahulu dan para auliya' Allah sehingga ke saat ini. InsyaAllah.

Empat bahan asas dan satu alat yang diperlukan dalam amalan atau rawatan cuci suara ini.
1. Garam Jantan
2. Air Asam Jawa
3. Jaddam
4. Madu Asli
5. Alat Pengasah Lidah 

Kaedah asasnya;
1.  Rawatan perlu dilakukan diawal pagi sebelum masuknya waktu solat Subuh.
2.  Alat pengasah lidah perlu diembunkan semalamam (Petua)
3.  Rawatan perlu dilakukan ketika tarikh bulan sedang turun (kalendar Islam)
4.  Ambil segengam garam jantan dan masukkan ke dalam segelas air (gunakan gelas kaca)
5.  Minum air garam tersebut, pastikan garam telah dikacau sehingga larut terlebih dahulu, tujuannya untuk membersihkan tekak dan kerongkong.
6.  Kemudian cuba keluarkan semula air garam yang telah diminum tadi dengan cara menjolokkan jari ke dalam kerongkong. Selepas air garam keluar (sekadar yang mampu), bersihkan badan dan solat subuh dahulu.
7.  Setelah selesai solat subuh dan selesai wirid (secara perlahan), sedut sedikit air asam jawa ke dalam rongga hidung kemudian hembus keluar.
8. Kemudian minum setengah gelas air asam jawa (tanpa gula) tujuannya untuk menyejukkan kembali tekak dan kerongkong yang perit sebabkan oleh air garam tadi.
9.  Kemudian telan (satu sudu teh) jaddam (rasanya pahit).
10.  Kemudian minum secukupnya madu asli untuk menghilangkan rasa pahitnya jaddam tadi.
11. Yang terakhir, asah lidah dengan menggunakan alat pengasah lidah (boleh dibeli di kedai farmasi).

Sekian, semoga ilmu ini bermanafaat untuk kita semua. Sebaik-baiknya semasa proses rawatan ini dilakukan harus ada guru (atau ahlinya) yang mengawasi dan memberi tujuk ajar yang betul untuk mengelakkan sebarang kecederaan. Wallahu'alam.




Pelajaran tentang keadilan

Dalam kisah Ayahnda Daud a.s., terdapat pelajaran tentang keadilan dan pembatasan terhadap pemahaman-pemahaman yang wajib berjalan dengan sendirinya untuk menjaga agar hakim dan pemerintah jagan sampai jatuh ke dalam kezaliman.

Hal ini terlihat di dalam seruan Allah Ta’ala kepda Nabi-Nya, Daud a.s. :

“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikut hawa nafsu, kerana dia (hawa nafsu) akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, kerana mereka melupakan hari perhitungan.”
Al-Quran Surah Shod ayat 26.


Dalam ayat ini,  Allah berwasiat kepada Daud a.s. agar memberi keputusan kepada manusia secara benar dan lurus, sehingga segala urusan akan menjadi lurus dan umat pun akan menjadi baik.

Akan tetapi, apakah sebab-sebab dan faktor-faktor yang menyebabkan pemerintah atau penguasa berpaling dari jalan yang benar? Sesungguhnya hal itu adalah hawa nafsu yang gejala-gejalanya adalah sebagai berikut, Dendam terhadap musuh, cinta terhadap orang-orang kuat dan kaum kerabat, penindasan terhadap orang-orang lemah dan musuh-musuh, serta kerelaan terhadap pelepasan jiwa dari cintanya kepada ketinggian dan kemasyhuran. Hal seperti ini sangat jelas pada beberapa pemerintah. Oleh sebab itu, setelah Allah berwasiat kepada Nabi-Nya Daud a.s. agar memerintah secara benar, Dia berfirman kepadanya, "Dan janganlah engkau menurut hawa nafsu".

Akhirnya, Al-Quran menerangkan bahwa pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan akibat hawa nafsu manusia itu ialah, berpaling dan tersesat dari jalan Allah yang akan menghantarkannya kepada kebahagiaan dan kemenangan yang benar, dan sebaliknya keluar dari jalan yang telah digariskan Allah, yang mengakibatkan adanya siksaan pedih pada hari kiamat.

Ini adalah salah satu di antara wasiat-wasiat yang disebutkan di dalam Al-Quran untuk memelihara pemerintah dan hakim dari kesalahan, dan menjauhkan mereka dari berlaku zalim yang mengakibatkan rosaknya peraturan-peraturan negara dan wibawa keputusan yang sah, sehingga goyahnya dasar-dasar pembangunannya.




Waktu-waktu yang Diutamakan untuk Beribadah

Di dalam kisah Ayahnda Daud a.s. terdapat pula pengkhususan waktu yang diutamakan untuk beribadah. Hal ini dapat dimengerti dari firman Allah Ta'ala;

"Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi."
Surah Shood ayat 18.

Pengkhususan dan waktu ini menunjukkan adanya keistimewaan dan bertambahnya kemuliaan. Kerananya pengkhususan ini patut kiranya dijadikan alasan untuk selalu beribadah di dalam dua waktu tersebut. Kerana sesungguhnya waktu-waktu dan tempat-tempat tertentu mempunyai pengaruh terhadap keutamaan ibadah yang dilaksanakan.

Ketika matahari terbenam dan malam pun mulai datang, jiwa-jiwa menjadi tenang, lalu mendatang alam dengan penuh kekaguman sambil merenungkannya. Sungguh ia telah dicekam kesunyian! Kemudian tampaklah di langit bintang-bintang yang bersinar dan bercahaya, melepaskan jiwa-jiwa dari belenggu yang mengikatnya akibat sibuknya pekerjaan dan hiruk-pikuknya kehidupan. Sehingga mempercepatkan manusia untuk segera bertasbih kepada Maha Pencipta dengan memuji dan memuliakan keagungan-Nya.

Demikian pula waktu matahari terbit, ketika alam tampak terang cemerlang, digenangi dengan embun pagi, dan manusia, burung-burung serta binatang-binatang yang ada di dalamnya mulai bergerak. Semua itu memberikan pengaruh kejiwaan ke dalam hati manusia dan memanggilnya untuk memuliakan Penciptanya.





Perpaduan Antara Dunia dan Akhirat

Banyak orang menyangka bahwa antara dunia dan akhirat mustahil dapat dipadukan. Kerana menurut pandangan mereka, beragama itu adalah meninggalkan keduniaan, selalu berada pada tempat-tempat peribadatan, dan tidak mengambil bagian kesempatan dunia. Sangkaan seperti ini terlah tersiar hingga para penyeru kekufuran mengeluarkan pernyataan yang sangat membahayakan, yaitu, "Agama adalah candu bagi setiap bangsa."

Di antara masalah yang tidak diketahui oleh kaum materialistis, bahwa sesungguhnya Islam memandang dunia dan akhirat itu saling berhubungan dan melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya. Ajaran-ajaran Islam pun menyerukan supaya mengambil bagian dunia serta membekali diri untuk akhirat.

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagian kamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah kepada (orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu."
Al-Quran surah Qashoos ayat 77.

Sebagaimana Islam memerintahkan untuk mengambil sarana-sarana kekuatan yang melindungi negeri dari serangan musuh.

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka (musuh), kekuatan apa saja yang kamu sanggupi."
Surah Al-Anfal ayat 60.

Inilah pengertian agama dalam pandangan Islam. Dan ini pulayang telah diwasiatkan kepada Ayahnda Daud a.s. untuk menjadi pelajaran bagi kita.

"Buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakanlah amalan yang soleh."
Surah Sabak ayat 11.

Allah Ta'ala menyuruh Ayahnda Daud a.s. supaya membuat baju-baju besi. Sebab pada zamannya, peperangan itu menggunakan peralatan seperti panah, lembing dan pedang. Sedangkan baju besi adalah salah satu di antara alat untuk melindungi diri. Zaman sekarang, setelah diketemukan persenjataan-persenjataan untuk membunuh, telah berkembang pula peralatan-peralatan penangkisnya. Adapun kewajiban orang yang beriman adalah membuat peralatan yang dapat menahan persenjataan yang dapat mengakibatkan kemusnahan itu.

Renungkanlah, bagaimana Allah Ta'ala setelah mewasiatkan kepada Ayahnda Daud a.s. untuk membuat baju-baju besi, lalu Dia (Allah) menyuruh Ayahnda Daud a.s. bersama para pengikutnya untuk beramal soleh demi kebaikan di dunia dan di akhirat. Kerana dunia dan akhirat menurut pandangan agama adalah saling berkaitan dan saling melengkapi antara satu dengan lainnya. Kerananya, kekuatan militer dapat menjaga umat dari serangan musuh dan penindasan penjajah. Sedangkan kekuatan rohaniah yang merupakan manifestasi dari iman dan amalan soleh akan dapat memperbaiki umat dan menjaga dari kerosakan.




Introspeksi (Perasaan Dalam Lubuk Hati)

Dalam kisah Ayahnda Daud a.s. terdapat pelajaran tentang introspeksi dari kesalahan-kesalahan dan niat-niat buruk yang lahir dari dalam jiwa. Hal seperti ini tampak jelas bagi kita dalam firman Allah Ta'ala;

"Dan Daud mengira (merasakan) bahwa Kami mengujinya, maka dia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat (kepada Tuhannya)"
Surah Shood ayat 24.

Kemudian, apakah yang dimaksudkan dengan "Kami mengujinya"? Apakah Allah Ta'ala menguji Ayahnda Daud a.s. atau benar-benar telah menjatuhkannya dalam suatu cobaan? Hal itu mungkin saja terjadi. Tetapi yang jelas, Ayahnda Daud a.s. telah memohon ampun kepada Tuhannya kerana dia berbuat kesalahan. Maka bagaimanakah pendapatmu terhadap orang yang yakin akan kesalahan? Di dalam masalah ini, terdapat pelajaran sempurna dalam kaitannya dengan introspeksi diri dan mengekang kejahatan jiwa ketika terbetik di dalamnya niat untuk berbuat sekehendaknya akan menyebabkan kerosakannya.

Kerananya,bagi kaum berlainan apabila jiwa membisikkan untuk membuat kemungkaran atau terdetik adanya niat menghasut sesama umat manusia, hendaklah kita mengikut Ayahnda Daud a.s., yaitu menyungkur ruku atau sujud dan kembali kepada Allah Ta'ala dengan bertaubat, maka Allah pasti akan mengampuni. Hal tersebut lantaran Allah Ta'ala akan membuat perhitungan terhadap suatu perbuatan sampai kepada apa yang disembunyikan dalam jiwa.

"Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu."
Surah Al-Baqarah ayat 184.

Ini adalah salah satu di antara cara-cara Allah Ta'ala yang Maha Bijaksana di dalam memperbaiki jiwa. Kerana jika perbuatan-perbuatan yang mungkar dan bisikan-bisikan kejahatan itu dibiarkan berada pada manusia tanpa ada perbaikan, maka pasti akan membahayakan tingkah lakunya. Dalam hal ini Saiyidina Usman r.a. mengatakan;

"Tidak ada suatu rahsia pun yang dirahsiakan seseorang kecuali Allah akan menampakkannya pada air mukanya dan perkataannya yang spontan tanpa pemikiran."

Dan Zuhair bin Abi Salma r.a. mengatakan, 

"Walaupun seseorang mempunyai perangai (Baik atau Buruk), lalu disembunyikannya daripada manusia, pasti perangai itu pun akan diketahui oleh mereka."

Maka kesimpulannya; "Jadilah dirimu sendiri."


Wallahu'alam.

Sekian Terima kasih, Wassalam.


Surau Kedah Medical Centre (KMC), Alor Merah, Kedah &
Surau Kg. Sungai Baru Utan Aji, Perlis.

Ahad, 31 Ogos 2014

Kisah Seorang Nabi, Hamba, Raja dan Hakim (Ayahnda Daud a.s.)


Assalammualaikum...wrth, hari ini Ahad 31 Ogos 2014 Masihi bersamaan 05 Zulkaedah 1435 Hijrah. Alhamdulillah  sama-samalah kita bersyukur kepada Allah Ta'ala kerana dikurniakan kepada kita umur untuk menyaksikan sambutan kemerdekaan MALAYSIA kali yang ke 57.

Disini Lahirnya sebuah CINTA.... 

Semoga saudara dan saudari sekalian sihat sejahtera selalu hendaknya. Dalam artikel kali ini hamba ingin mengajak saudara saudari sekalian bersama-sama hamba mengimbau kembali kisah Ayahnda Daud a.s. selepas baginda menjadi Raja dan Utusan Allah bagi anak cucu Bani Israil serta Yahudi seluruhnya.


Ayahnda Daud a.s. sebagai Hakim

Nabi Daud a.s. telah membahagi hari-harinya menjadi empat bahagian: sehari untuk beribadah, sehari untuk menjadi hakim, sehari untuk memberikan pengajaran, dan sehari lagi untuk kepentingan peribadinya.

Pada suatu hari, pada hari-hari yang dipergunakan untuk kepentingan peribadi, ketika Dia menyepi dan tidak ada seorang pun yang berani mengganggu ketenangannya, tiba-tiba tanpa sepengetahuan para penjaga, dua orang lelaki telah melompati pagar dan masuk ke dalam mihrabnya, Ayahnda Daud a.s. terkejut melihat kedatangan mereka yang secara tiba-tiba itu, dan mengira bahwa mereka akan berniat jahat kepadanya. Mereka berkata, "Jangan takut! kami hanyalah dua orang yang berselisih. Kami datang kepadamu untuk meminta keputusan. Maka berilah kami keputusan yang benar, jangan zalim, dan bimbinglah kami ke jalan yang lurus dan jelas".

Mulailah orang yang teraniaya mengadukan perkaranya, seraya berkata, “Sesungguhnya teman dan saudaraku seagama ini (sambil menunjuk kepada temannya) memiliki 99 ekor kambing, ingin memiliki seekor kambingku. Aku telah berusaha memberikan penjelasan kepadanya bahwa permintaannya itu adalah salah. Tetepi aku gagal dan kalah dalam mendebat dan melawanya”.


Setelah mendengar cerita ini, Daud a.s. menyalahkan si pemilik 99 kambing yang akan mengambil kambing satu-satunya milik temannya itu. Kemudian Daud a.s memberikan keputusan bahwa si pemilik 99 kambing itu telah berbuat aniaya dengan permintaannya itu, dan keadaannya seperti kebanyakan teman yang berusaha menganiaya teman-teman mereka sendiri. Padahal kewajipan mereka adalah berlaku adil terhadap sesamanya.

Watak seperti inilah yang dimiliki oleh kebanyakan manusia, selain orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal soleh dan sedikit sekali ditemui did lam masyarakat. Di sini, tampaklah bahwa Ayahnda Daud a.s. berhati-hati terhadap dua orang yang berselisih dengan perkara semacam ini, bahwa mereka utusan Allah sebagai cobaan. Hal itu agar Ayahnda Daud a.s. selalu waspada terhadap sesuatu urusan yang patut menjadi perhatiannya, sesuai dengan kedudukannya. Oleh kerana itu, Ayahnda Daud a.s. memohon ampun kepada Allah Ta’ala, lalu menundukkan diri sambil bersujud dan kembali kepadaNya, agar Dia berkenan menerima taubatnya.

Maka Allah s.w.t. pun menerima taubatnya, dan menenangkannya bahwa Daud a.s. didekatkan kepadaNya, dan tempat kembalinya adalah syurga.

Rujuk firman Allah s.w.t. dalam surah Shod ayat 21 hingga 25.


Suatu pendapat mengatakan ; bahwa cobaan yang dimaksudkan adalah keluarga Ayahnda Daud a.s. yang ditutupinya daripada manusia ramai. Padahal kewajipan seorang hakim adalah senantiasa mempersiapkan diri untuk menghakimi dan tidak meletakkan tabir penghalang antara dia dengan orang-orang yang berselisih. Hal ini seperti telah dilakukan Ayahnda Daud a.s. terhadap dua orang yang berselisih yang menaiki mihrabnya, lalu menemuinya.

Pendapat lain mengatakan ; bahwa cobaan itu adalah keputusannya yang dibuat terhadap dua orang yang berselisih, yaitu setelah mendengar alas an dari salah seorang di antara keduanya, sedangkan dia belum mendengar alas an dari yang lainnya.

Pendapat lain mengatakan pula ; bahwa cobaan itu ada pada perasaan Ayahnda Daud a.s. sebagai seorang raja dan seorang yang mempunyai kekuatan. Dalam semua itu dia melihat adanya cobaan dan ujian dari Allah yang diberikan bagi dirinya, sehingga dia takut apabila jatuh ke dalam kezaliman sebagaimana halnya kebanyakan pemerintah.

Kemudian Ayahnda Daud a.s. bermaksud akan memperlihatkan keagungan pemberian yang telah diberikan kepadanya, yakni bahwa Allah menjadikannya pemimpin di muka bumi. Kepemimpinan inilah biasanya menjadikan manusia berbuat sewenang-wenang dan memerintah menurut hawa nafsunya. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menyeru agar memerintah manusia dengan benar dan bukan dengan hawa nafsu. Kerana hal itu akan memalingkan dari jalan Allah yang berdiri tegak di atas keadilan yang mutlak. Dan orang-orang yang berpaling dari jalan Allah akan mendapatkan siksaan yang amat pedih pada hari kiamat nanti, yang disebabkan oleh kelupaan mereka kan akibat kezaliman dan berpaling dari kebenaran inilah yang telah diwasiatkan Allah Ta’ala kepada Ayahnda Daud a.s. dengan firmanNya :

“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangan kamu mengikuti hawa nafsu, kerana ia menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang pedih, kerana mereka melupakan hari perhitungan.”
Surah Shod ayat 26.


Ayahnda Daud a.s. Sebagai Hamba

Allah Ta’ala menggambarkan ibadah Ayahnda Daud a.s. dengan firmannya :

“Dan ingatlah hamba Kami, Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah.”
Surah Shod ayat 17 hingga 19.


Dalam ayat-ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. agar mengingati hamba-Nya dan Nabi-Nya Daud a.s. Hal ini dimaksudkan agar Baginda s.a.w. dapat mengambil contoh yang baik daripadanya, kerana Ayahnda Daud a.s. mempunyai sifat dza’l aid, yaitu mempunyai kekuatan dalam beragama, yang tidak lemah kerana kekerasan dan tidak luluh kerana penganiayaan. Allah Ta’ala juga mensifatkan Ayahnya Daud a.s. dengan sifat awwab, yaitu banyak kembali kepada Allah dan bersandar diri kepada-Nya dalam menghadapi kekejaman dan kesusahan, baik secara sembunyi-sembunyi mahupun terang-terangan.

Allah Ta’ala juga telah menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama Ayahnda Daud a.s. pada waktu petang dan pagi hari dengan bahasa khusus yang tidak dapat dimengerti oleh manusia biasa. Tetapi dapat dimengerti oleh Ayahnda Daud a.s. dengan pancaindera, pengetahuan dan kelebihan khusus yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala kepadanya. Demikian pula burung-burung, mereka berkumpul di sekeliling Ayahnda Daud a.s. ketika dia bertasbih kepada Allah Ta’ala, bahkan mereka mengikutinya. Hal ini pun disebutkan oleh Allah s.w.t. dengan firmanNya :

“Dan sesungguhnya Kami berikan Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), ‘Wahai gunung-gunung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud.”
Surah Shod ayat 10.


Kerajaan dan Hikmah Ayahnda Daud a.s.

Allah Ta’ala menyebutkan nikmat-nikmatNya yang telah dilimpahkan kepada Ayahnda Daud a.s. dengan firmanNya :

“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.”
Surah Shod ayat 20

Yang dimaksudkan dengan ‘Kami kuatkan kerajaannya’ ialah ; Allah Ta’ala menguatkan kerajaannya dengan wibawa kemenangan, kekuatan tentera dan nikmat yang berlipat ganda. Dan yang dimaksudkan dengan ‘Kami berikan kepadanya hikmah’ ialah ; kenabian, ilmu yang sempurna dan ilmu perundangan (undang-undang). Sedangkan yang dimaksudkan dengan ‘kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan’ ialah ; kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan yang terjadi antara orang-orang yang berselisih dengan memisahkan antara yang benar dan yang salah.



Mukjizat Ayahnda Daud a.s.

Allah s.w.t. telah menunjukkan kelebihan Ayahnda Daud a.s., iaitu hal-hal luar biasa yang tidak dapat diperbuat oleh manusia biasa.

Firman Allah s.w.t. :

“Dan Kami lunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakanlah amalan yang soleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.”
Surah Saba’ ayat 10 dan 11.

Maksudnya Allah Ta’ala telah melunakkan dan menundukkan besi untuknya, hingga menjadi seperti dian lilin yang dapat diubah sekehendaknya tanpa menggunakan api ataupun palu (pengetuk). Dan dari besi itu Ayahnda Daud a.s. membuat baju-baju besi yang dikukuhkan dengan tenunan dari bulatan-bulatan rantai yang jalin-menjalin. Jenis baju besi seperti ini tidak akan mengganggu pemakainya semasa bergerak, tidak seperti baju-baju besi yang terdiri dari satu lembaran.

Al-Quran telah menunjukkan hal itu juga :

“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperangan.”
Surah Al-Anbiya’ ayat 80.

Maksudnya, Allah Ta’ala telah mengajarkan kepada Ayahnda Daud a.s. bagaimana cara membuat pakaian, yaitu baju yang terbuat dari besi untuk menjaga sebatan pedang dan tikaman lembing dalam peperangan melawan musuh.



Kitab Ayahnda Daud a.s.

Al-Quran menyebutkan bahwa Allah Ta’ala telah memberikan sebuah kitab kepada Ayahnda Daud a.s. yang bernama Zabur.

“Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud.”

Para ahli kitab menamakannya dengan Al-Mazamir, yaitu syair-syair keagamaan yang menyentuh perasaan hati dan berlagu. Di antaranya terdapat nyayian-nyayian merdu dan pantun-pantun yang mengandungi pujian-pujian terhadap Allah dan kekaguman terhadap ciptaanNya, selawat-selawat, pengajaran wasiat-wasiat Tuhan beserta pahala-pahala dan siksa-siksaNya.

Kebanyakan Muzamir itu kepunyaan Ayahnda Daud a.s. dan setelah Muzamir Ayahnda Daud a.s., dibuatkan beberapa Muzamir lainnya. Beberapa Muzamir itu adalah buatan Haman, Athan, Sulaiman, Asap, Jadwathan, Musa dan putra-putra Cyrruh.

Wallahu’alam.



Sekian Wassalam…

Derang, Kedah MALAYSIA...