Assalamualaikum..wrt,
artikel kali ini adalah sambungan artikel pengajaran dan tauladan dari kisah
Ayahnda Nuh a.s. semoga kita semua mendapat manfaat dunia dan akhirat.
Ayat Al-Quran sebagai
ungkapan perkataan Ayahnda Nuh a.s. sebagai berikut, “Dan Allah menumbuhkan
kami dari tanah dengan sebaiknya”. Ayat ini menerangkan kepada kita bahwa Allah
s.w.t. menyempurnakan hidup kita ini dari tumbuh-tumbuhan. Maksudnya,
kelangsungan hidup kita ini tergantung dari tmbuh-tumbuhan. Adalah sangat
menakjubkan sekali bahwa ayat ini sebenarnya menerangkan hakikat ilmiah dan
bersesuaian dengan apa yang diterangkan dalam sebuah buku ilmiah berjudul “Air
adalah benda alam yang luar biasa”.
Para sarjana biologi menetapkan bahwa
tumbuh-tumbuhan adalah keperluan primer makhluk hidup seperti haiwan, termasuk
juga manusia. Bahkan semua bakteria pun dapat hidup dengan memakan
tumbuh-tumbuhan atau sari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Seperti
kita makan ikan umpamanya, sebenarnya kita memakan tumbuh-tumbuhan. Kenapa demikian,
kerana ikan-ikan besar hidup dengan memakan ikan-ikan kecil atau haiwan-haiwan
kecil lain, demikian seterusnya. Akhirnya jika kita teruskan kitaran ini akan
sampai kepada tumbuhan. Maka tumbuh-tumbuhan adalah asas kehidupan yang paling
tua, setua jenis manusia itu sendiri. Demikianlah keterangan yang dapat kita
peroleh dari Al-Quran dan ilmu pengetahuan yang menerangkan tentang makanan
manusia dan unsur-unsur lain yang hidup dari makanan itu.
2. Keserasian hubungan
antara golongan manusia.
Pada zaman Ayahnda Nuh a.s.,
menurut keterangan Al-Quran terdapat dua golongan manusia. Mereka terbahagi
dalam kelompok orang kaya dan terhormat, serta kelompok kaum buruh dan fakir.
Al-Quran menggambarkan dalam kisah Ayahnda Nuh a.s., bahwa kaum buruh dan fakir
menerima dakwahnya kerana kelompok ini mengakui dan menegakkan keadilan,
persamaan dan kasih sayang di kalangan mereka dan tidak pandang antara si kaya
dan si miskin. Akan tetapi, kelompok orang kaya dan bangsawan menolak dakwah
Ayahnda Nuh a.s.
Mereka merasa lebih mulia
dan tidak layak bersama orang yang lebih rendah derajatnya dalam satu ikatan
kerjasama. Lebih jelas lagi, kelompok bangsawan berjanji kepada Ayahnda Nuh
a.s. akan menerima ajarannya jika Ayahnda Nuh a.s. bersedia mengusir semua kaum
fakir dan buruh dari majlisnya. Tetapi Ayahnda Nuh a.s. menolak syarat yang
mereka ajukan dan berkata kepada mereka, “Aku sekali-kali tidak akan mengusir
orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan
Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui. Hai
kaumku, siapakah yang akan menolongku dari azab Allah jika aku mengusir mereka.
Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?” Surah Huud ayat 29 dan 30.
Al-Quran sejak 14 abad yang
lalu telah menghapuskan adanya kasta dalam masyarakat dengan suatu ayat yang
menerangkan bahwa semua manusia adalah sama. Dalam kisah Ayahnda Nuh a.s.,
Allah s.w.t. hendak menjelaskan bahwa antara para hartawan dan bangsawan dengan
lainnya tidak ada kelebihan sama sekali. Dan masyarakat yang dikehendaki Allah
s.w.t. adalah masyarakat yang sederajat dan mempunyai hak dan kewajipan yang
sama. Masalah yang membedakan mereka adalah ilmu dan ketakwaan. Dalam Al-Quran
diterangkan,
“Sesungguhnya orang yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di
antara kamu.” Surah al-Hujurat ayat 13.
“Katakanlah, adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.” Surat
az-Zumar ayat 9.
Seandainya orang-orang kaya
mendengar dan memperhatikan kebenaran, niscaya tidak akan terjadi pergaduhan
antara kelompok.
3. Pelajaran tentang Tekad Yang Kuat.
Di antara sifat yang harus
dimiliki oleh manusia adalah tekat yang kuat, dengan tekad kuat itu dapat
mengalahkan kesulitan dan kegawatan. Ayahnda Nuh a.s. sebagai contoh yang layak
diteladani kekuatan tekadnya. Baginda berdakwah kepada kaumnya secara terus
menerus dalam jangka waktu yang sangat panjang tanpa tergoyangkan kemauan dan
aqidahnya. Di antara gambaran yang lebih jelas sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran
adalah istiqamah Ayahnda Nuh a.s. dalam berdakwah kepada kaumnya. Baginda tak
kenal siang maupun malam, baik sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, dan
kaumnya mengacuhkan dakwahnya sama sekali. Bahkan mereka tidak mau mendengar
atau menyaksikan dakwah Ayahnda Nuh a.s. Inilah puncak dari keingkaran mereka
terhadap dakwah Nabi Nuh a.s. dan siksaan bagi perasaannya.
Cuba saja sampai mereka
menuduh Ayahnda Nuh a.s. seorang gila, “Dia tidak lain hanyalah seorang
laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai
suatu waktu”. Surah Al-Mu’minun ayat 25.
Jika kita langkahkan penyelidikan
lebih jauh, maka tampak lebih jelas kekuatan tekah Ayahnda Nuh a.s. ketika
menghadapi ancaman secara berani, tak gentar meneruskan dakwahnya, “Mereka
berkata, ‘Sesungguhnya jika kamu tidak
mau berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang yang
dirajam.” Surah Asy-Syu’ara ayat 116.
Akan tetapi, Ayahnda Nuh
a.s. tidak gentar menghadapi ancaman itu, bahkan berserah diri ada Allah s.w.t.
“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku, kerana
itu adakanlah keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan
orang-orang Mukmin besertaku.” Surah Asy-Syu’ara ayat 117 dan 118.
Pada saat yang berbeza, kita
juga dapat menyaksikan ketabahan Ayahnda Nuh a.s. menghadapi ejekan kaumnya
ketika membina bahtera di atas pergunungan. “Dan tiap kali pemimpin kaumnya
berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya, berkatalah Nuh, ‘Jika engkau
mengejek kami, maka kami pun mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek
kami.” Surah Huud ayat 38.
Apa sebenarnya yang
mendorong Ayahnda Nuh a.s. hingga ia mempunyai keazaman yang teguh itu?
Jawapannya tidak lain adalah Iman yang kuat terhadap Tuhannya (Allah sw.t), dan
kepasrahnnya (redhanya) setiap kali mendapat kesulitan dan siksaan.
4. Menghindar diri dari
keluarga yang rosak.
Hubungan keluarga merupakan faktor
penting dalam membina umat manusia. Oleh sebab itu, perlu mendapat perhatian
khusus seperti dengan pengorbanan dan kasih sayang naluriah.
Islam memang banyak
memberikan perhatian tentang masalah keluarga ini, kerana tabiat dan maslahat
manusia tergantung pada baik atau buruknya keluarga. Tetapi, dalam pembinaan
keluarga ada syarat asasi yang perlu ditanamkan, yakni iman dan syari’at, sebab
keduanya ini sebenarnya yang menjadi pengikat dalam ikatan kekeluargaan.
Kerananya, seorang Muslim akan bersaudara berdasarkan iman dan keislamannya,
dan membenci seseorang, walaupun dia itu keturunannya, kerana kekufurannya.
Al-Quran menerangkan, “Kamu
tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat,
saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,
sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun
keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan
dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan.” Surah al-Mujadalah
ayat 22.
Dari kisah Ayahnda Nuh a.s.,
Al-Quran memberikan contoh yang hidup bagi kita. Ayahnda Nuh a.s. menyayangi
anaknya sehingga baginda memohon kepada Tuhan agar menyelamatkan putranya itu
dari bahaya kehancuran. Tetapi Allah s.w.t. tidak memperkenankan permohonannya
dan mengatakan bahwa perbuatan Ayahnda Nuh a.s. (memohon keselamatan putranya)
sebagai kebodohan yang tidak semestinya ada pada diri Nabi Nuh a.s.
“Dan Nuh berseru kepada
Tuhannya sambil berkata, ‘Ya, Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku,
dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang
seadil-adilnya’. Allah berfirman, ‘Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah
keluargamu (yang dijanjikan Allah akan diselamatkan), sesungguhnya
(perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon
kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikatnya)”. Surah Huud ayat 45
dan 46.
Berdasarkan ayat tersebut,
kiranya jelas bahwa yang menjadi sasaran Al-Quran tidak hanya sekedar hubungan
keluarga. Tetapi amal solehnya yang menjadikan seseorang mendapat kebahagiaan
di dunia dan akhirat. Hubungan keluarga sama sekali tidak dapat memberikan
pertolongan dari azab Allah s.w.t. kalau ia orang yang durhaka.
Al-Quran menegaskan lebih
lanjut lagi, “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi
orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang soleh
di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua
suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari
siksa Allah, dan dikatakan kepada keduanya,masuklah ke dalam neraka bersama
orang-orang yang masuk neraka”. Surah at-Tahrim ayat 10.
Sebab kehancuran isteri Nuh
dan Luth adalah penyelewengan mereka dari jalan yang benar. Ini merupakan
contoh yang jelas dari Al-Quran bahwa kerabat, walaupun dia orang soleh, sama
sekali tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kerabat yang durhaka.
Banyak sekali orang yang
tersesat dalam memahami jalan keselamatan hanya dapat diperolehi dengan
mengagungkan tokoh-tokoh agama tanpa memperhatikan apakah dirinya sudah berbuat
baik atau tidak. Fahaman yang demikian ini merupakan kesalahan dan dapat
merosakkan agama itu sendiri serta menyebabkan keterbelakang, kejumudan dan
kehancuran. Lain halnya dengan orang yang mengerti bagaimana seharusnya
menghormati tokoh agama yang dibenarkan dan dikehendaki oleh agamanya, tidak
hanya sekadar mengagungkan tanpa adanya usaha memperaiki keadaan diri sendiri.
Wallahu'alam.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan